Jumat, 31 Januari 2014

Membangun “Ekonomi Daerah” melalui Potensi Alam dan Potensi Sosial Masyarakat

Berkenaan dengan tema “Optimalisasi Peranan Kelembagaan dalam Pemerataan Pembangunan Indonesia” yang terkandung dalam pesan (artikel) berjudul “Impian: Konferensi di Kalimantan” dan “Kerjasama Pusat-Daerah” di www. darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena kelembagaan yang baik akan memberikan dampak positif pula kepada masyarakat disekitar daerah tersebut agar mampu membangun daerah mereka.
                Indonesia adalah negara agraris yang terdiri dari banyak pulau dan kepulauan serta didukung dengan sumberdaya perairan. Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas yang membentang dari barat ke timur sepanjang 5.110 km dan membujur dari utara ke selatan sepanjang 1.888 km. Dengan wilayah seluruhnya mencapai 5.193.252 km2 yang terdiri atas 1.890.754 km2 luas daratan dan 3.302.498 km2 luas lautan. Luas daratan Indonesia hanya sekitar 1/3 dari luas seluruh Indonesia sedangkan 2/3-nya berupa lautan. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan hasil agrarianya.
                Ekonomi sosial pertanian sudah tidak dipungkiri lagi merupakan suatu hal yang membawa berkah bagi masyarakat di Indonesia karena sebagian besar masyarakat Indonesia yang berpenghasilan mengengah ke bawah, mayoritas di dominasi oleh masyarakat petani. Apabila kita menelaah hasil dari pertanian kita jelas sudah erat kaitannya dengan adanya kemiskinan di Indonesia karena petani sering dikaitkan dengan istilah kemiskinan. Penghasilan petani di Indonesia masih rendah karena adanya kelembagaan yang kurang memihak kepada para petani dalam penyediaan modal. Hal ini disebabkan lahan yang mereka miliki hanya sekitar 0,3% dari luas lahan. Tentu ini pukulan keras bagi para pemimpin pusat maupun pemimpin-pemimpin daerah di Indonesia. Apa jadinya bangsa ini tanpa petani.
                Sebaliknya pertumbuhan teknologi perindustrian di Indonesia semakin berkembang pesat yang sangat didukung oleh pemerintah. Salah satu faktor pendukungnya dalah karena adanya Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) yang mengarahkan sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, pencipta lapanan pekerjaan baru, sumber peningkatan ekspor dan penghematan devisa, penunjang pembangunan daerah, penunjang pembangunan sektor-sektor lainnya serta sekaligus sebagai wahana pengembangan dan penguasaan teknologi.
                Walaupun pada awalnya Repelita berbicara pemenuhan kebutuhan dasar dan penekanan pada sektor pertanian, akan tetapi hal ini hanya dilakukan dalam waktu 5 tahun pertama yaitu pada Repelita I. Sedangkan suatu pembangunan pertanian tidak cukup hanya dibangun dan direncanakan hanya dalam waktu 5 tahun. Kita seharusnya tidak hanya mempunyai rencana 5 tahun ke depan, akan tetapi harus memiliki rencana pembangunan yang lebih matang dan direncanakan dalam waktu 60 tahun ke depan agar Indonesia dapat memiliki masterplan jelas dan tentunya harus dilaksanakan dengan taat dan penuh ketegasan. Sudah ada contoh tentang kejadian dari ketidaktegasan dalam suatu pembangunan dan pengelolaan, yaitu mengenai masterplan yang dijalankan dengan baik, penuh ketegasan dan ketaatan. Saya mendapatkan cerita dari ayah saya mengenai masterplan pembangunan ibukota Jakarta,  dan ibukota Kuala Lumpur. Ayah saya menginformasikan kepada saya bahwa dahulu saat ia masih duduk di bangku kuliah Jurusan Teknik Sipil ia sering diberitahu beberapa hal mengenai pembangunan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki masterplan yang sama dalam pembangunannya. Pada kenyataannya pada saat ini Indonesia tertinggal jauh oleh rekan se-“masterplan”-annya karena kurang tegas dalam membangun ibukota sehingga masterplan tidak dijalankan dengan baik.
                Industri dan pertanian merupakan sektor yang saling mendukung untuk membangun bangsa dimana harus ada keselarasan sistem yang baik dari pemimpin Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia jauh lebih unggul disbanding dalam hal Sumber Daya Alam. Namun, Sumber Daya Alam Indonesia yang begitu luas ternyata tidak menjamin majunya bisnis pertanian di Indonesia. Misalnya saja dalam hal pemenuhan kebutuhan garam  Nasional, Indonesia masih perlu mengimpor, padahal panjang garis pantai Indonesia terpanjang keempat di Dunia. Kembali ini menujukkan lemahnya keprihatinan untuk membangun sistem khususnya pertanian. Saya sendiri kurang suka membanding-bandingkan dengan negara lainnya, akan tetapi contohnya saja Denmark yang bukan salah satu negara agrarian dapat meningkatkan hasil ekspor pangannya. Hasil pangan Denmark naik dapat meningkat dua kali lipat dalam 12 tahun dari tahun 2000-2012. Badan PBB juga memproyeksikan bahwa produksi pangan harus ditingkatkan 70% dalam empat puluh tahun ke depan atau tepatnya pada tahun 2050 untuk menyeimbangi penduduk dunia, bila hal ini tidak dilakukan maka 370 juta orang akan menghadapi ancaman kelaparan pada tahun tersebut. Tentunya semua fenomena ini memanggil Indonesia sebagai negara agraris untuk meracik, menanggap dan merespon. 
                Tentunya bukan hal yang mudah untuk membangun bangsa jika hanya melihat dari sebagian sudut mata saja masih ada sektor perindustrian, perdagangan, hubungan luar negri, keamanan negara, pendidikan, keagamaan, keuangan, kehutanan, perhubungan, kesehatan, komunikasi, lingkungan hidup dan lain-lain. Akan tetapi beberapa yang ingin saya dijelaskan dalam artikel ini adalah adanya keharmonisan dan keselarasan dalam dan antar sektor akan mencapai suatu titik temu jika kita memiliki pemimpin berjiwa cerdas. Saya memberikan contoh kepada adanya akar permasalah pertanian yang belum tuntas menurut kacamata studi saya. Impian Konferensi di Kalimantan mempertegas suatu hal bahwa ketertinggalan infrastruktur di daerah-daerah Indonesia yang masih sangat-sangat rendah. Pelik mendengar kabar bahwa keindahan alam Kalimantan terlupakan karena kekurangan infrastuktur dan fasilitas-fasilitas yang masih jauh bila dibandingkan dengan infrastruktur dan fasilitas-fasilitas yang ada di Bali mengingat potensi yang dimiliki oleh Kalimantan. Justru seharusnya di daerah terkait tersebut dibuat fasilitas dan infrastruktur yang memadai untuk mengadakan acara seminar dan konferensi-konferensi. Karena jelas sudah yang memiliki potensi adalah pulau Kalimantan, akan tetapi malah arah pembangunan bukan disalurkan kepada daerah yang memiliki potensi tersebut.
                Seiring dengan kejadian yang ada di daerah seperti saat ini mendukung untuk pengadaan integrasi antar pusat dan daerah yang disampaikan sebelumnya bahwa jika kita melihat di luar negri maka orang-orang luar negri memulai dari bawah, dari akar permasalahan yang pokok dan urgent bagi masyarakat yaitu kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Pembangunan/pengembangan industri pangan akan membantu terciptanya lapangan pekerjaan sekaligus terciptanya ketahanan pangan. Jika mereka merasa diperhatikan maka akan tumbuh kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahannya bahwa mereka sedang bekerja untuk rakyat. Seiring dengan pernyataan ini maka akan membangkitkan sekaligus mengembalikan kencintaan masyarakat kepada bangsanya sendiri. Banyak perusahaan swasta yang telah menerapkan sistem yang baik pada perusahaannya dengan sistem padat karya. Contohnya saja perusahaan pemulia benih jagung di Sumatera Barat, PT. Citra Nusantara Mandiri. Mereka mengajak para petani untuk menanam jagung agar jagung yang telah petani tanam di jual kepada perusahaan tersebut dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya, akan tetapi input pertanian seperti pupuk, obat tanam, benih dan alat disediakan oleh perusahaan. Itu juga saat hasil panen tiba, hasil panen langsung dijemput oleh perusahaan sehingga petani tidak usah repot-repot untuk mengirim hasil panen ke perusahaan. Dan pekerja pemipil dan grading benih jagung dilakukan oleh tenaga manusia, tentunya dengan manajemen yang baik dan terintegrasi. Seharusnya perusahaan pemerintah dapat meniru dan mengadopsikannya ke perusahaan milik pemerintah itu sendiri.
      Selain itu, terdapat isu-isu dan pengembangan yang harus diketahui dan dilaksanakan strategi pengembangannya seperti Asean Economic Community 2015, pemaksimalkan menjadi kunci untuk pengembangan dan perambah pasar internasional.
Dari hal di atas kembalilah kita ke artikel pertama kita bahwa jangan sampai Sumber Daya Alam yang berlimpah ini tidak didukung dengan adanya kekuatan sosial hanya karena kurangnya peran kelembagaan dari pemerintah untuk membangun daerahnya masing-masing. Agar kita dapat membangun Indonesia mulai dari bawah, dari akar. Perubahan menjadi harga mati untuk membangun bangsa ini, jika tidak mulai dari kerikil kecil maka tidak akan ada gunung di bumi, jika kita tidak mulai dari bawah dari bagian terkecil maka takkan ada bangsa yang Berjaya. Mari kita temukan jalan ajaib untuk menuju impian kita “Indonesia: Negara Maju.”


“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan”.

References:
1. id.wikipedia.org
2. www.bbc.co.uk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar